Review Joker (2019) – Film Terbaik Atau Terburuk?

review Joker 2019
review Joker 2019

Kenapa Banyak yang Tidak Menyukai Film “Joker”?

Kini, Joker (2019), telah menjadi salah satu film yang kerap disebut sebagai film yang “overrated” atau dinilai terlalu tinggi. Dengan kata lain, kebanyakan orang berpikir bahwa film Joker “tidak sebagus itu”.

Bagaimana bisa?

Waktu pertama kali menonton Joker di bioskop, saya masih ingat, saya menontonnya di hari pertama (penayangan perdana). Saya suci dari segala kontaminasi ulasan, bocoran, dan sebagainya. Bahkan saya tak berekspektasi sama sekali. Saya hanya ingin menyaksikan “The Origin of The Joker” atau bagaimana asal-usul Joker menurut Todd Phillips. Saya tidak berpikiran, “ini akan menjadi film yang bagus.”

Alhasil, bum! Saya benci tatkala “credit roll” mulai bergulir. Saya sangat tidak ingin film tersebut berakhir. Durasi dua jam dua menit terasa kurang untuk film sebagus ini, batin saya waktu itu. Kenapa? Sebab saya berhasil menangkap esensi atau segala hal yang ingin disampaikan oleh film Joker. Akting Joaquin bukanlah nilai utamanya bagi saya, itu nomor sekian, meski kualitasnya memang fantastis. Akting sebagus itu pun, jika ia bermain di film The Room-nya Tommy Wiseau, jelas nggak relevan. Seandainya film tersebut tidak berjudul “Joker” atau tidak berupaya menjelaskan asal usul Joker pun, saya tetap akan menyukainya.

Jadi, menurut saya, mengapa banyak orang tidak menyukai Joker (2019) adalah:

Berekspektasi

Joker
Joker

Ekspektasi dapat disebut juga semacam pengharapan. Pengharapan setiap orang dalam menonton film tentulah berbeda-beda. Namun, untuk Joker, saya rasa banyak yang berekspektasi Joker adalah film penuh kharisma dari seorang penjahat nomor wahid di semesta DC dengan segala kecerdasan dan kepiawaiannya dalam memporak-porandakan isi kota Gotham.
Sayang sekali, Todd Phillips dan Scott Silver menulis lain. Joker adalah sebuah kisah seorang lelaki yatim yang mengalami berbagai bentuk kesialan dan keterpurukan dalam hidupnya. Genrenya lebih ke drama-psikologi. Yang berharap banyak adegan aksi tentulah kecewa dan menganggap Joker adalah film komik yang jelek.

Provokasi


Dalam membaca “review” atau ulasan film, kerap kali kita mudah terpengaruh. Apalagi jika si reviewer sudah punya nama besar dan lihai dalam mengolah opininya. Yang semula kita berpikir begini, bisa berubah menjadi begitu lantaran dipengaruhi oleh ulasan orang lain. Saya saksikan sendiri bagaimana segilintir orang yang semula memuji suatu film, lambat laun berubah menjadi sebaliknya karena pengaruh opini orang lain. Hal demikian banyak saya dijumpai pada kasus Joker dan Endgame (karena dalam masa penayangan atau masih dalam enam bulan sejak perilisannya, dua film tersebut sangat “booming” bahkan sempat menimbulkan “chaos” pada lini medsos yang disebabkan perbedaan pendapat).

Untuk Joker sendiri, orang-orang mulai membencinya tatkala mengetahui bahwa ia mirip dengan mahakarya Martin Scorsese, Taxi Driver (1976) dan The King of Comedy (1980). Banyak adegan yang seolah menjiplak. Padahal bisa jadi itu adalah upaya “tribute” atau penghormatan Todd Phillips terhadap dua film legendaris tersebut.

Mispersepsi


Yang terakhir tentu saja adalah salah paham. Di suatu tempat di Amerika, bahkan film Joker dilarang ditayangkan karena takut memancing tindakan kriminal tertentu. Ini cukup menggelikan sebab seharusnya mereka—para orang dewasa (Joker memang untuk orang yang berpikiran dewasa, ia memiliki rating R alias restricted atau terbatas, tidak boleh ditonton oleh sembarang umur) mampu mengerti mana yang baik dan buruk dalam sebuah film. Anehnya, banyak film yang jauh lebih brutal bahkan sejak trailer, justru tidak mengalami pencekalan.

Ketika kita tak mampu menangkap atau mencerna esensi suatu film maka sudah pasti kita tak akan bisa menyukainya. Ini kerap terjadi pada film-film bergaya alegori-absurd seperti Mother! (2017).
Penonton Joker yang mispersepsi akan menganggap film Joker adalah film tentang lelaki pecundang, baru disakiti begitu saja sudah jadi jahat, atau mengajarkan perbuatan tak baik seperti membunuh orang tua sendiri, atau film tak jelas yang kebanyakan hanya diisi tawa dan halusinasi oleh aktor utama.

Tiga hal di atas nyatanya dapat terjadi pada semua film. Ada yang semula suka menjadi tak suka, ada pula yang semula tidak suka menjadi suka. Saya pribadi, kebanyakan film yang berkesan bagi saya dan saya anggap bagus adalah film hasil keinginan saya sendiri. Bukan dari rekomendasi, rating IMDB, apalagi review.
Namun, rata-rata film populer atau berprestasi, pasti dengan sendirinya akan menciptakan kubu kontra. Contohnya seperti film Korsel fenomenal kemarin, Parasite (2019). Banyak bermunculan artikel dan opini yang menilai bahwa Parasite tidak sebagus itu. Yah, Bong Joon-Ho hanya bisa nyimak sambil ngemutin Piala Oscar-nya. wkwkwk…

About Isamu Akira 32 Articles
Aku tidak suka istilah "orang baik" atau "orang jahat" karena tidak mungkin seseorang dianggap baik atau jahat bagi semua orang. Bagi sebagian orang, kau adalah orang yang baik, sementara bagi orang lain, kau adalah orang jahat.